Rabu, 14 Maret 2018

Kasus SMPN 10 Metro Berlanjut

METRO – Inspektorat Kota Metro menyatakan telah menerima berkas laporan serta aduan secara tertulis dari Dewan Pendidikan Kota Metro (DPKM), terkait permintaan pindahnya guru SMPN 10 Metro secara masal serta pengaduan dari Lily Apriyani guru Bahasa Indonesia SMPN 10 yang mendapat perlakukan tidak menyenangkan oleh Koordinator Pengawas (Korwas) saat dipriksa di sekolah tersebut.
Inspektur Pembantu (Irban) II Kota Metro Sutikno, SE membenarkan hal tersebut. Ia mengaku akan segera membuat surat tembusan disposisi ke Walikota Metro guna mempercepat proses pemeriksaan ke SMPN 10 Metro.
“Kita tidak bisa melangkah jauh tanpa ada instuksi dari Walikota. Artinya, kita tetap menunggu surat perintah pemeriksaan dari beliau untuk tahap pemeriksaan ke SMPN 10 Metro,”ungkapnya, Rabu (14/3/2018).
Dalam kasus ini, Sutikno menegaskan akan berhati-hati dalam menyikapinya. Pasalnya, ini melibatkan banyak pihak yang memang sebagai tenaga pendidik disekolah itu. Bahkan menurut dia, permasalahan ini juga melibatkan Dinas Pendidikan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Metro soal mutasi terebut.
“Sabar ya, laporan sudah kita naikan ke pak Walikota dan masih nunggu petunjuk beliau. Kita tidak bisa melakukan pemeriksaan tanpa ada perintah pimpinan,  jadi sementara belum ada hasil kesimpulannya,”pungkasnya. (*)

Rabu, 14 Juni 2017

Honor Linmas di Metro Cuma Rp50 Ribu

METRO – Pemerintah Kota (Pemkot) Metro saat ini hanya bisa memberikan honor anggota lingkungan masyarakat (Linmas) atau Hansip sebesar Rp50 ribu perbulan. Karna terbilang sangat kecil, pemberian honor tersebut diberikan setiap enam bulan sekali.

Kasat Pol PP Kota Metro, Imron, SP mengatakan, bahwa pemberian honor tersebut setiap semester atau enam bulan sekali. Untuk tahun ini akan diberikan usai gelar pasukan tangal 19 Juni 2017, persiapan Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah.

“Di Kota Metro ada 22 anggota Linmas. Dimana setiap satu kelurahan ada satu anggota Linmas, jadi 22 anggota tersebu tersebar di semua kelurahan di Kota Metro. Jadi satu anggota linmas persemester,lanjuta Imron menerima Rp300 ribu”ungkapnya, Rabu (14/6).

Soal rencana kenaikan honor linmas, kata Imron sudah diusulkan ke Pemkot Metro. Pada saat audiensi beberapa waktu lalu dengan Walikota Metro juga sudah disampaiakan. Termasuk atribut seragam linmas agar di anggarkan pada saat APBD Perubahan.

“Kami berharap sebagai mitra Satpol PP. Anggota linmas terus bersinergi dalam menciptakan sitaasi aman dan nyaman. Dan ikut serta menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat,”pungkasnya.(*)

Selasa, 01 November 2016

Menilik Kehidupan Santri di Ponpes Darul A'mal Metro

Miris, Satu Kamar Dihuni 12 Santri 
  
 

                                                                                                                                                                     Kehidupan santri di banyak pesantren di Indonesia sering diidentikan dengan kehidupan tertutup dari dunia luar. Mungkin juga sebagian masyarakat tak banyak mengetahui potret kehidupan di dalam asrama Pondok Pesantren (Ponpes). Miris, salah satu contohnya adalah asrama Ponpes Darul A'Mal 16B Mulyojati Metro Barat, satu kamar dihuni 12 santri selama bertahun -tahun. Bagaimana kehidupan di dalamnya ? 


 Laporan : Freddy Kurniawan Sandy/Radar Metro 

Sekitar pukul 12.30 WIB, Rabu (7/12/2016) cuaca awan diatas langit cukup mendung. Tak lama selang 5 menit hujan pun turun cukup deras. Sahabat sayapun mengajak berteduh disalah satu Masjid dan kebetulan tepat di salah satu Yayasan Pondok Pesantren Darul A'mal Kota Metro. Kamipun langsung mengambil air wudhu dan ikut shalat Dzuhur berjamaah. Aluanan suara zikirpun sangat merdu dibacakan para santri. Singkat cerita memutuskan menemui salah satu ustad untuk berkeliling di lingkungan asrama. Meski dalam keterbatasan dan jauh dari orangtua mereka  terlihat canda tawa. Demi cita-cita dan pendidikan mereka tetap semangat meskipun harus tidak satu kamar 12 santri. 

Saat ditemui Radar Metro, Ketua Umum Ponpes Darul A’Mal Kota Metro Gus Kadratulloh Shidiq, S.H melalui pengurus harian (Lurah) Ponpes Darul A'Mal, Ustad M. Zakaria Mahmudi membenarkan, bahwa selama kurun beberapa tahun belakangan ini daya tampung asrama memang sangat terbatas berjumlah 50 kamar putra. Sedangkan jumlah santriawan terus meningkat, data terakhir mencapai 700 santriawan. “Sebagian barang-barang santri berserakan diteras. Karna gedung lantai II sedang dalam proses perbaikan, “ ungkapnya.

 Lebih lanjut, Zakaria mengaku, meski berdesak-desakan tempat tidur dan barang-barang pakaian dan buku. “Alhamdulilah para santri memaklumi dan tidak protes, orangtua santri pun juga sudah mengetahui hal tersebut, jadi tidak ada yang komplek kepihak ponpes. Selama ini dari segi kesehatan dan kebersihan warga ponpes cukup baik, mereka sudah menerapkan PHBS (Prilaku Hidup Bersih dan Sehat) sehingga dalam kurun dua tahun ini terhindar dari penyakit gatal-gatak, “katanya.

Sementara itu, menggapi hal tersebut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Metro, Drs.H. M. Saleh, M.H, mengaku secara persis belum melihat secara langsung konsep penataan tempat tidur yang dilakukan masing-masing pengurus Ponpes. Namun tidak menutup kemungkinan masih didapati 1 kamar bisa dihuni 10 sampai 15 santri. "Jelas kasian santrinya kalau harus berdesak-desakan, itu tidak ideal. Apapun alasannya tetap akan kita tegur dan cross cek ke lapangan, “ Tegas Saleh yang juga Dosen Filsafat Hukum Islam STAIN Jurai Siwo Metro.

Saleh menambahkan, selama ini kita hanya berkordinasi lewat udara maupun pada saat pertemua melalui acara-acara yang sifatnya seremonial. Mengenai permasalah secara formal maupun nonformal pendidikan keagamaan dilingkungan Ponpes, dengan adanya laporan dan masukan ini akan kita tindaklanjuti agar selain santri belajar menimba ilmu diponpes juga mendapat kenayaman serta kesehatan.

 ”Saya juga menegaskan bagi yayasan ponpes bila fasilitas sarana dan prasarana belum mendukung jangan menerima kouta santri berlebihan. Apalagi biaya santri menimba ilmu di ponpes cukup mahal, kasian kalau tidak diperhatikan,”pungkasnya.(*)